• Jalan Suroto 9 Kotabaru Yogyakarta
  • (0274) 511314
  • perpus_jogja [at] yahoo [dot] co [dot] id




Pandemi dan Menulis

Pandemi Covid-19 belum berakhir seutuhnya. Saat ini masyarakat masih dikhawatirkan dengan pandemi Covid-19 yang masih berlangsung. Bahkan saat ini virus yang berkembang semakin bervariasi. Tentu hal ini sangat berpengaruh terhadap tatanan kehidupan. Tidak hanya pada sektor ekonomi dan politik namun juga pada sektor pendidikan. Sektor pendidikan saat ini bisa dikatakan mengalami kemacetan. Meskipun masih berjalan namun saat ini pembelajaran para siswa dilakukan secara online. Hal ini juga dikeluhkan para siswa dikarenakan keterbatasan sarana dan prasarana juga lebih sulit memahami materi yang dijelaskan melalui daring dibanding jika bertatap muka secara langsung. Hal ini juga menjadi kejemuhan sendiri bagi generasi muda karena diusia mereka yang sedang senang berekspresi justru tidak dapat berinteraksi dengan bebas. Perlu adanya pengalihan ataupun penyaluran aktivitas yang positif. Salah satunya yaitu dengan cara menulis.

Bukan lagi sebuah rahasia jika menulis dijadikan salah satu alternatif yang baik ketika seseorang sedang membutuhkan terapi rutinitas. Selain itu menulis juga sangat baik untuk kesehatan dan kekebalan tubuh. Hal ini pun telah dibuktikan dan telah dilakukan penelitian. Salah satunya oleh psikolog Katharina Amelia Hirawan yang mengemukakan jika menulis bisa menjadi salah satu bentuk terapi terutama bagi mereka yang memiliki gangguan psikologis. Pada kondisi pandemi saat ini dimana masyarakat diminta untuk tetap berada di rumah dan tidak diperbolehkan berpergian, membuat masyarakat butuh akan hiburan. Masyarakat juga menjadi terbatas ruang geraknya untuk beriteraksi dengan orang lain. Sebagai makhluk sosial pastinya hal ini sangat membebani psikologis dan mental.

Keren Baikie seorang psikolog asal Universitas New Sount Wales melakukan studi dengan meminta semua partisipan untuk menulis tiga sampai lima peristiwa dalam waktu 15 menit. Hasil dari studi tersebut yaitu jika seseorang menuliskan peristiwa-peristiwa yang penuh dengan tekanan, emosi serta bersifat traumatis, maka hal itu dapat memperbaiki kesehatan mental juga fisik dibandingkan ketika seseorang menulis dengan topik yang netral. Hasil studi ini, bisa menjadi rujukan bagi pemerintah maupun pelaku di sektor pendidikan untuk memberikan edukasi kepada para siswa untuk mengekpresikan segala bentuk perasaan atau hal yang mereka lalui kedalam tulisan. Selain sebagai terapi, menulis juga dapat menjadi alternatif masyarakat dan para siswa untuk berkarya.

Dengan menulis, seseorang akan lebih mudah mengontrol emosi dan menjadi lebih terorganisir. Seseorang yang rutin menulis tentu juga akan membutuhkan perbendaharaan kata yang lebih banyak yang membuatnya harus membaca. Dengan kata lain menulis juga menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kemauan untuk membaca.